SuaraRiau.id - Aksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap semakin melengkapi stempel jika beliau memang tak akur dengan kelompok yang kontra dengan membubarkan HTI, FPI, hingga menangkap Habib Rizieq Shihab.
Terkait hal ini, Dosen Universitas Indonesia Ade Armando melemparkan pandangannya. Ade justru merasa salut dengan keputusan Jokowi mengangkat Kapolri beragama Katolik.
Bagi Ade, itu justru pertanda jika Presiden Jokowi tak mau tersandera pada kelompok Islam radikal.
“Inilah letak kehebatan Jokowi, dia tak takut. Ini memang berisiko, namun ini terbaik, negara tak boleh tersandera oleh kelompok radikal,” kata Ade Armando di Youtube Cokro TV dikutip dari Hops.id--jaringan Suara.com, Senin (18/1/2021).
Ade Armando menilai penunjukkan Komjen Listyo Sigit sebagai Kapolri sebenarnya adalah kabar baik bagi Indonesia yang sedang diancam oleh kaum Islam radikalis yang sedang berusaha memecah belah bangsa.
Di satu sisi, Ade sendiri percaya bahwa Sigit adalah seorang polisi yang cakap dan berintegritas.
Akan tetapi, dia mengakui, di sisi lain, di Indonesia, seseorang yang memiliki keunggulan kualitas tidak cukup untuk menjadikannya untuk dipilih sebagai pemimpin.
Karena seolah dia diposisikan harus datang dari pemeluk agama Islam.
“Buat presiden ini tentu bukan perkara mudah. Bila dia tidak cukup tegas, dia bisa tersandera kelompok-kelompok radikal tersebut. Kita sudah melihat ada banyak pemimpin dan juga wakil rakyat yang takut mengambil keputusan yang mereka khawatirkan akan mengusik perasaan umat Islam konservatif,” katanya lagi.
SBY dulu takut Islam radikal
Menurut Ade, ada salah satu kesalahan Presiden SBY, yang membuat kaum Islam radikal kian berkembang.
Ya, dia dianggap tidak berani mengambil risiko kehilangan popularitas di mata kaum Islamis. Bagi Ade, di kepala SBY mungkin ada imajinasi bahwa kaum Islam radikal berjumlah besar dan mereka punya kemampuan menggerakkan kaum muslim di Tanah Air.
“Merekalah yang sangat ditakuti dulu oleh SBY. SBY bukan Islamis, bahkan kesannya sekuler, tapi ketika memimpin dia tak pernah tegas menghabisi Islam radikal. Akhirnya dia jadi tersandera oleh imajinasi dia, sikap yang merugikan secara politik. Begitu juga dengan parpol,” kata Ade lagi.
Kaum Islamis radikal yang dia maksud bukan umat Islam secara keseluruhan.
Kaum Islamis radikal yang dia maksud adalah kaum muslim yang percaya bahwa Indonesia harus menjadi negara Islam atau menjadi negara yang dikuasai penguasa Islam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Harga Bahan Makanan Naik Drastis, Emak-emak di Siak: Benar-benar Harus Ngirit
-
Indosat 5G di Pekanbaru, Bikin Streaming hingga Gaming Lancar Jaya
-
Jejak Herry Heryawan di Riau, Naik Pangkat saat Karhutla Masih Jadi Sorotan
-
Hukuman Abdul Wahid Diperberat Jadi Empat Tahun Penjara
-
BRI Bersama KPK Perkuat Budaya Antikorupsi lewat PELOPOR 2026