Eko Faizin
Rabu, 04 November 2026 | 08:51 WIB
Ilustrasi foto udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla). [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/tom]
Baca 10 detik
  • Kementerian Kesehatan mencatat 314.124 kasus ISPA di tujuh provinsi akibat karhutla pada 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026.
  • Sumatera Selatan mencatat kasus ISPA tertinggi, sedangkan wilayah lain turut melaporkan penyakit seperti pneumonia dan diare akut.
  • Pemerintah daerah menyediakan rumah oksigen karena paparan polutan berbahaya dari kabut asap karhutla mengancam kesehatan masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Partikel PM2.5 yang mencapai bagian dalam paru-paru dapat memicu iritasi dan peradangan. Kondisi tersebut membuat saluran pernapasan lebih sensitif dan dapat menimbulkan berbagai keluhan.

Gejalanya antara lain batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, serta gangguan lain yang menyerupai ISPA.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap, terutama balita dan kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Load More