SuaraRiau.id - Sidang mediasi kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oknum polisi digelar di Aula Zapin Mapolresta Pekanbaru, Selasa (12/12/2023).
Usai menjalani, Yuni yang merupakan istri tersangka KDRT Brigadir RRS mengungkapkan sejumlah sifat buruk sang suaminya.
Sambil mengusap air mata, Yuni menyampaikan jika Brigadir RRS selain sering melakukan KDRT juga sering bermain wanita hingga rela membayarkan uang kos si wanita simpanan tersebut.
"KDRT yang dilakukan (Brigadir RRS-red) sebelum dan setelah menikah juga sering memukul saya. Tapi saya tahan," ujarnya dikutip dari Riauonline.co.id--jaringan Suara.com, Selasa (12/12/2023).
Selain itu, kata Yuni, suaminya sering memberikan uang jajan atau uang belanja kepada wanita-wanita lain.
"Si Brigadir RRS minta uang ke saya, uangnya kadang digunakan untuk bayar kos-kosan wanita simpanannya. Kemudian pacarnya di bandung," ucapnya.
Namun karena sudah tidak tahan dengan perlakuan suaminya, Yuni memutuskan untuk memviralkan kasus KDRT yang dialaminya.
"Saya sudah tidak tahan lagi, saya masih trauma. Semoga Kapolda dan Kapolresta memproses hukum dengan seadil-adilnya," terangnya didampingi keluarga dan kuasa hukumnya.
Masa penahanan Brigadir RRS diperpanjang
Sementara itu, Propam Polda Riau memperpanjang masa penahanan Brigadir RRS, oknum Polresta Pekanbaru yang diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Yuni.
Masa penahanan Brigadir RRS yang sebelumnya berakhir pada 6 Desember 2023, kini diperpanjang selama 16 hari ke depan, hingga 22 Desember 2023.
Kabar perpanjangan masa penahanan Brigadir RRS disampaikan oleh kuasa hukum Yuni, Wisnu Kumala. Wisnu mengatakan bahwa pihaknya sampai saat ini masih menunggu panggilan dari Propam Polda Riau terkait perkembangan kasus dugaan KDRT kliennya.
"Kami mendapat informasi dari Polda Riau kalau masa penahanan suami klien saya (Yuni-red) diperpanjang selama 16 hari ke depan," ujar Wisnu dikutip, Selasa (12/12/2023).
Wisnu juga mengatakan bahwa pihaknya bersama Yuni dan pihak keluarga melakukan sidang mediasi di Mapolresta Pekanbaru. Dalam sidang tersebut, Yuni tetap pada keputusannya untuk berpisah dengan Brigadir RRS.
"Alhamdulillah pihak Polresta menerima kami. Yuni ingin tetap pada keputusannya untuk berpisah. Semua keputusan ada padanya," ungkapnya.
Yuni sendiri masih trauma dengan kekerasan yang dialaminya. Ia berharap mendapatkan keadilan atas kasus yang menimpanya.
Berita Terkait
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
-
Di Tanah Lada: Apakah Mati Jadi Jalan Keluar Terbaik untuk Ava?
-
Beautiful Pain Angkat Perjuangan Perempuan Hadapi KDRT hingga Pelecehan Seksual
-
Pengantin Pesanan: Saat Pernikahan Jadi Modus Perdagangan Orang
Terpopuler
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
- 11 HP Murah untuk Ojol, Baterai Awet dan Layar Terang agar Tetap Nyaman di Jalan
- Persija dan PSM Masuk Daftar 24 Klub Penunggak Gaji Pemain Versi Data Terbaru APPI
- 7 Sepatu Slip On Lokal yang Empuk dan Anti Pegal untuk Kerja Komuter, Mulai Rp100 Ribuan
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Anggota TNI AU Pekanbaru Tewas Diduga Dianiaya, Personel Lain Diperiksa
-
PPPK Paruh Waktu Pemkot Pekanbaru Berpeluang Jadi Penuh Waktu
-
Herri Pras Sudah Minta Maaf, Laporan Dugaan Hina Ulama Tetap Berlanjut
-
Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto
-
Akun TikTok Dipolisikan, Tuduh SF Hariyanto Komentari Eks Kapolri Sadap Presiden