Scroll untuk membaca artikel
Eko Faizin
Jum'at, 27 Agustus 2021 | 17:47 WIB
Daniel Mananta

“Mereka banyak mikir kalau, ‘ya udah deh gue kasih ini.’ Padahal itu tulus, bukan ikhlas.” sambungnya.

Ia mengibaratkan ikhlas itu seperti air murni.

“Ikhlas itu adalah ketika misalnya ada air murni banget tapi lo masukin teh, air itu jadi bernoda. Tapi akhirnya lo masukin air lagi, air, air sampai air itu jadi murni. Jadi itu adalah ikhlas ketika air itu menjadi murni lagi,” sebutnya.

Ayah dua orang anak itu meyakini, ikhlas harus dimulai dari diri sendiri.

“Jadi intinya kita harus mengikhlaskan diri kita sendiri. Dengan apa pun yang terjadi di sekitar kita. Kita bisa dengan toxic yang udah masuk, naik ke atas tapi kita bisa terus mengikhlaskan seperti air murni di awalnya.”terang Daniel.

Dia meyakini perasaan negatif bila dibiarkan akan berimbas ke orang-orang terdekat.

“Karena apa, ketika kita toxic, mengekspose diri teradap toxic, kita kan memasukkan diri kita dengan toxic, perasaan negatif. Yang akan terkena dampaknya adalah orang-orang yang kita sayang,” lanjutnya.

Load More